Make your own free website on Tripod.com

Friday, January 30, 2004

Vitamin-Vitamin untuk Jiwa

Pertama kali mendengar buku dengan judul Chicken Soup for the Soul, tidak
ada satupun kesan khusus yang membuat saya tertarik dengan buku ini. Namun,
begitu menemukan ada banyak sekali penulis, pembicara dan konsultan kejiwaan yang mengutip buku ini, saya coba untuk membaca buku ini secara cepat di
toko buku. Eh, malah tertarik dan keterusan sehingga membeli seluruh seri
buku ini.

Ada banyak cerita dan pengalaman menarik, ditulis oleh banyak sekali manusia yang mau berbagi pengalaman kehidupan. Sungguh, disamping gaya bertuturnya
yang tidak menggurui, buku ini banyak memberi vitamin terhadap jiwa saya.

Ada sebuah cerita yang mengendap terus di benak saya sampai sekarang. Seorang anak yang merasa memberi terlalu sedikit untuk sang Ibu selama
hidup, suatu hari datang ke panti jompo tempat sang Ibu dititipkan untuk
pertama kalinya. Menyadari bahwa salah satu kesenangan Ibu ini adalah
memakan es krim, maka dibawa sertalah beberapa es krim. Karena umur yang
demikian tua, Ibu terakhir sudah tidak mengenali siapa-siapa. Kendati diajak

bicara dengan suara keras sekalipun, ia tidak akan dengar. Sesampai di panti jompo, sang anak memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah
puteri bungsunya. Sebagaimana jawaban ke setiap orang yang datang, Ibu ini
hanya bisa menjawab tersenyum. Ketika es krim diletakkan ke tangan sang Ibu, langsung saja ia memakannya penuh kenikmatan. "Senang sekali rasanya melihat Ibu enak memakan es krim pemberianku", demikian anak ini menulis. Beberapa
menit setelah es krim ini habis, sang Ibu menoleh ke anaknya sambil berucap
lirih: "Betapa nikmatnya hidup ini jika saya memiliki seorang puteri sebaik
Anda". Dengan air mata yang tidak bisa ditahan, pemberi es krim tadi pergi
ke toilet sambil menangis. Dan yang membuat cerita ini mengharukan, sesaat setelah kembali dari toilet sang Ibu sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Cerita riil ini, sangat menggugah jiwa saya. Dengan penuh rasa syukur pada
Tuhan, saya sangat beruntung membaca kisah ini tatkala Ibu kandung dan Ibu
mertua masih hidup dan bisa mengenali anaknya. Sebagai manusia biasa, kedua
Ibu yang amat berharga bagi saya ini, memang mempunyai banyak kekurangan.
Salah satunya malah buta huruf seumur hidup. Namun, setelah membaca cerita
di atas, saya berjanji dengan diri sendiri untuk memberikan sebanyak mungkin yang saya punya, kepada dua orang Ibu ini.

Saya tidak tahu, apakah jiwa Anda tergugah atau tidak dengan cerita di atas. Akan tetapi, sebagaimana tubuh fisik kita, yang membutuhkan sejumlah vitamin agar bisa hidup sehat, jiwa kita juga saya kira membutuhkan vitamin dalam
wujud yang lain.

Buku harian saya sebagai konsultan manajemen SDM, mencatat beberapa hal yang mungkin bisa berguna bagi Anda.

Pertama, ada beberapa tempat dan kejadian dalam kehidupan yang bisa memberi
vitamin pada jiwa. Tempat pertama adalah rumah sakit. Di rumah yang
sebenarnya tidak sehat ini, sering saya bertemu dengan orang-orang dengan
beban kehidupan yang amat berat. Setiap kali mau makan makanan enak, meminum minuman lezat, atau mengumbar banyak nafsu, memori saya tentang rumah sakit
bisa menjadi rem yang amat pakem. Tempat kedua yang sama pentingnya adalah
kuburan. Setiap kali lewat di tempat peristirahatan terakhir ini, saya
diingatkan bahwa setiap orang akan terbaring tanpa daya di situ. Ini juga
rem kejiwaan yang amat pakem. Terutama karena diingatkan akan "tabungan
akhirat" saya yang masih perlu ditambah.

Disamping tempat, ada dua kejadian yang bisa memberi vitamin lumayan pada
jiwa yakni kematian dan kesulitan hidup. Kematian siapapun, sebagaimana kita rasakan, memberi refleksi ke yang masih hidup, bahwa manusia semuanya akan
tamat riwayatnya. Stephen Covey pernah memberikan pertanyaan yang amat
menggugah di sini: "Anda mau dikenang sebagai manusia macam apa?"

Sama mujarabnya dengan kematian, kesulitan-kesulitan hidup sebenarnya juga
sejenis vitamin jiwa. Saya pernah mengalami jiwa yang amat tersiksa ketika
tinggal numpang di rumah saudara. Perlakuan anaknya yang demikian kasar,
membuat saya bertekad agar kejadian yang sama tidak terulang di rumah saya
oleh siapapun kelak.

Kedua, ada sejumlah organ dalam tubuh kita yang sebaiknya dibuka agar
vitamin jiwa bisa masuk. Ken Blanchard dalam jurnal Personal Excellence edisi Juli 1998 menulis: "A Person's mind is like a parachute: unless it is
open, it doesn't function." (Benak manusia seperti parasut: hanya berfungsi
jika terbuka). Kepala, telinga, perhatian dan mata sebagian dari unsur- unsur mind adalah kumpulan organ yang sebaiknya dibuka buat orang dan ide
lain. Manusia-manusia yang mind-nya tertutup, tidak saja egois, miskin teman dan mudah stres, namun mumngkin sekali memiliki jiwa yang kering.

Ketiga, seorang wanita yang amat berpengaruh dalam kehidupan saya, mengajarkan untuk banyak memaafkan dan memberi tanpa meminta imbalan. Harus
saya akui, belum sempurna memang. Akan tetapi, ada banyak sekali species
stres yang lenyap dari kehidupan saya begitu sesaat sebelum tidur memaafkan
siapa saja yang pernah salah, dan belajar mengingat yang baik-baik saja dari setiap orang.

Saya memang masih jauh dari sempurna. Wika puteri saya bahkan sering mengritik saya. Tetapi, sebagaimana tubuh yang membutuhkan vitamin setiap
hari, bukankah jiwa kita juga memerlukannya?

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Mawar untuk Ibu

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan
bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km
darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil
berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu
menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli
setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang
lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu
bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai
mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke
ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar
gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira,
katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil
itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan
bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu.
Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan
kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai
sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?